Entri Populer

Sabtu, 11 Desember 2010

Silahkan kasi Judul SenDiri...

Menjadi guru, bukanlah
pekerjaan mudah.
Didalamnya, dituntut
pengabdian, dan
juga ketekunan. Harus ada
pula kesabaran, dan welas
asih dalam
menyampaikan
pelajaran. Sebab,
sejatinya, guru bukan
hanya mendidik, tapi juga
mengajarkan.
Hanya orang-orang
tertentu saja yang
mampu menjalankannya.
Menjadi guru juga bukan
sesuatu yang gampang.
Apalagi, menjadi guru
bagi
anak-anak yang
mempunyai
“keistimewaan”. Dan saya,
merasa beruntung sekali
dapat
menjadi guru mereka,
walau cuma dalam
beberapa jam saja. Ada
kenikmatan
tersendiri, berada di
tengah anak-anak dengan
latar belakang Cerebral
Palsy
(sindroma gangguan otak
belakang).
Suatu ketika, saya diminta
untuk mendampingi
seorang guru, di sebuah
kelas
khusus bagi penyandang
cacat. Kelas itu, disebut
dengan kelas persiapan,
sebuah
kelas yang berada dalam
tingkatan awal di YPAC
Jakarta. Lazimnya, anak-
anak
disana berumur antara
9-12 tahun, tapi
kemampuan mereka
setara dengan anak
berusia 4-5 tahun, atau
kelas 0 kecil.
Saat hadir disana, kelas
tampak ramai. Mereka
rupanya sedang bermain
susun
bentuk dan warna. Ada
teriak-teriakan ganjil yang
parau, dan hentakan-
hentakan
kepala yang konstan dari
mereka. Ada pula tangan-
tangan yang kaku, yang
sedang
menyusun keping-keping
diagram. Disana-sini
terserak mainan kayu dan
plastik.
Riuh. Bangku-bangku
khusus berderak-derak,
bergesek dengan kursi
roda sebagian
anak yang beradu dengan
lantai.
Saya merasa canggung
dengan semua itu.
Namun, perasaan itu
hilang, saat melihat
seorang guru yang
tampak begitu telaten
menemani anak-anak
disana. “Mari masuk,
duduk sini dekat Si Abang,
dia makin pinter lho bikin
huruf, ” begitu panggilnya
kepada saya. Saya
berjalan, melewati anak-
anak yang masih sibuk
dengan tugas
mereka. Ah benar saja, si
Abang, anak berusia 11
tahun yang mengalami
Cerebral
Palsy dengan pembesaran
kepala itu, tampak
tersenyum kepada saya.
Badannya
melonjak-lonjak,
tangannya memanggil-
manggil seakan ingin
pamer dengan
kepandaiannya menyusun
huruf.
Subhanallah, si Abang
kembali melonjak-lonjak.
Saya kaget. Saya
tersenyum. Dia
tergelak tertawa. Tak
lama, kami pun mulai
akrab. Dia tak malu lagi
dibantu
menyusun angka dan
huruf. Susun-tempel-
susun-tempel, begitu
yang kami lakukan.
Ah, saya mulai menikmati
pekerjaan ini. Dia pun kini
tampak bergayut di
tangan
saya. Tanpa terasa, saya
mengelus kepalanya dan
mendekatkannya ke dada.
Terasa
damai dan hangat.
Sementara di sudut lain,
sang Ibu guru tetap sabar
sekali menemani semua
anak
disana. Dituntunnya
tangan anak-anak itu
untuk meniti susunan-
susunan gambar.
Dibimbingnya setiap
jemari dengan tekun,
sambil sesekali mengajak
mereka
tersenyum. Tangannya
tak henti mengusap
lembut ujung-ujung
jemari lemah itu.
Namun, tak pernah ada
keluh, dan marah yang
saya dengar.
Waktu berjalan begitu
cepat. Dan kini, waktunya
untuk pulang. Setelah
membereskan beberapa
permainan, anak-anak
pun bersiap di bangku
masing-masing.
Dduh, damai sekali
melihat anak-anak itu
bersiap dengan posisi
serapih-rapihnya.
Tangan yang bersedekap
diatas meja, dan tatapan
polos kearah depan, saya
yakin,
membuat setiap orang
tersenyum. Ibu guru pun
mulai memimpin doa,
memimpin setiap
anak untuk mengatupkan
mata dan memanjatkan
harap kepada Tuhan.
Damai. Damai sekali mata-
mata yang mengatup itu.
Teduh. Teduh sekali
melihat
mata mereka semua
terpejam. Empat jam
sudah saya bersama
“ malaikat-malaikat”
kecil itu. Lelah dan penat
yang saya rasakan,
tampak tak berarti
dibanding
dengan pengalaman batin
yang saya alami. Kini,
mereka bergerak, berbaris
menuju
pintu keluar. Tampak satu
persatu kursi roda
bergerak menuju ke arah
saya.
Ddduh, ada apa ini?
Lagi-lagi saya terharu.
Setibanya di depan saya,
mereka semua terdiam,
mengisyaratkan untuk
mencium tangan. Ya,
mereka mencium tangan
saya, sambil
berkata, “Selamat siang
Pak Guru..” Ah, perkataan
yang tulus yang
membuat saya
melambung. Pak guru…
Pak Guru, begitu ucap
mereka satu persatu.
Kursi roda
mereka berderak-derak
setiap kali mereka
mengayuhnya menuju ke
arah saya.
Derak-derak itu kembali
membuat saya terharu,
membayangkan usaha
mereka untuk
sekedar mencium tangan
saya.
Anak yang terakhir telah
mencium tangan saya.
Kini, tatapan saya
bergerak ke
samping, ke arah
punggung anak-anak
yang berjalan ke pintu
keluar. Dalam diam
saya berucap, “..selamat
jalan anak-anak, selamat
jalan malaikat-malaikat
kecilku …” Saya
membiarkan airmata yang
menetes di sela-sela
kelopak. Saya
biarkan bulir itu jatuh,
untuk melukiskan
perasaan haru dan
bangga saya. Bangga
kepada perjuangan
mereka, dan juga haru
pada semangat yang
mereka punya.
***
Teman, menjadi guru
bukan pekerjaan
mentereng. Menjadi guru
juga bukan pekerjaan
yang gemerlap. Tak ada
kerlap-kerlip lampu sorot
yang memancar, juga
pendar-pendar cahaya
setiap kali guru-guru itu
sedang membaktikan diri.
Sebab
mereka memang bukan
para pesohor, bukan pula
bintang panggung.
Namun, ada sesuatu yang
mulia disana. Pada guru
lah ada kerlap-kerlip
cahaya
kebajikan dalam setiap
nilai yang mereka ajarkan.
Lewat guru lah memancar
pendar-pendar sinar
keikhlasan dan ketulusan
pada kerja yang mereka
lakukan.
Merekalah sumber
cahaya-cahaya itu, yang
menyinari setiap hati
anak-anak didik
mereka.
Dari gurulah kita belajar
mengeja kata dan kalimat.
Pada gurulah kita belajar
lamat-lamat bahasa dunia.
Lewat guru, kita belajar
budi pekerti, belajar
mengasah hati, dan
menyelami nurani. Lewat
guru pula kita mengerti
tentang
banyak hal-hal yang tak
kita pahami sebelumnya.
Tak berlebihankah jika kita
menyebutnya sebagai
pekerjaan yang mulia?
Teman, jika ingin
merasakan pengalaman
batin yang berbeda,
cobalah menjadi guru.
Rasakan kenikmatan saat
setiap anak-anak itu
memanggil Anda dengan
sebutan itu,
dan biarkan mata penuh
perhatian itu memenuhi
hati Anda. Ada sesuatu
yang
berbeda disana. Cobalah.
Rasakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar